Tranplantasi Rahim Dan Vagina Pada Wanita

Tranplantasi Rahim Dan Vagina Pada Wanita

salutemondiale.web.id Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Tranplantasi Rahim Dan Vagina Pada Wanita. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Tranplantasi Rahim Dan Vagina Pada Wanita

Organ Reproduksi Bagian Luar
Pada organ reproduksi bagian luar, terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

Mons Pubis, yaitu bagian terluar dari organ reproduksi pada perempuan. Bagian ini berbentuk segitiga yang melindungi tulang kemaluan atau simfisis pubis. Pada bagian ini terdapat jaringan lemak, jaringan kulit, jaringan ikat, kelenjar keringat, dan akar rambut.

Labia mayora, yang bisa disebut juga dengan bibir kemaluan. Bagian ini berupa lipatan yang menyerupai bibir. Berdasarkan letaknya, labia mayor dibedakan menjadi dua jenis, yaitu permukaan luar dan permukaan dalam. Pada bagian luar, labia mayora dilapisi dengan sel epitel bertanduk serta terdapat akar rambut. Sedangkan pada bagian dalam, labia mayora tampak licin karena terdapat banyak jaringan lemak, tidak mempunyai folikel rambut dan kelenjar keringat.

Labia minora, yang bisa disebut juga dengan bibir kecil pada kemaluan. Labia minora berada di sebelah labia mayora dan sebelum Miss V. Hal yang membedakan antara labia minora dan mayora hanya tidak terdapat akar rambut dan memiliki banyak pembuluh darah.

Klitoris, yaitu sebuah organ seksual yang berada dalam Miss V. Klitoris memiliki struktur yang sama dengan Mr P pada laki-laki. Keduanya berada dalam posisi yang sama pula. Bedanya, klitoris tumbuh ke arah dalam, sedangkan Mr P tumbuh ke arah luar.

Selaput dara, yaitu membran tipis yang menutupi lubang Miss V.
Vestibulum, yaitu rongga kemaluan yang terletak di labia minora dan merupakan muara dari saluran uretra dan lubang Miss V.

Organ Reproduksi Bagian Dalam
Organ reproduksi bagian dalam pada wanita terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

Miss V, yaitu organ seksual pada wanita yang berbentuk seperti tabung. Miss V memiliki fungsi dalam berhubungan secara seksual dan sebagai jalan lahir.

Uterus atau rahim, yaitu organ paling penting dalam sistem reproduksi wanita. Rahim terhubung dengan leher rahim atau serviks yang tersambung dengan Miss V dan tuba fallopi. Selama masa kehamilan, seluruh proses perkembangan bayi terjadi di dalam rahim.

Oviduk atau tuba fallopi, yaitu saluran yang menghubungkan ovarium atau sel telur menuju ke rahim. lalu sebagai tempat terjadinya fertilisasi oleh sperma dan ovum, sebagai tempat pertumbuhan atau pembelahan embrio sementara sebelum akhirnya melekat pada endometrium atau lapisan pada rahim.

Ovarium, yaitu indung telur yang berfungsi sebagai organ penghasil sel kelamin pada wanita. Organ ini berjumlah dua buah dan terletak di sisi kanan dan kiri dari rahim dan berbentuk bulat lonjong.

Masyarakat Indonesia memang dikenal sulit menerima hal-hal yang dianggap ‘nyeleneh’. Terlebih jika hal itu dianggap melanggar norma-norma keagamaan, seperti apa yang dilakukan Lucinta Luna. Tidak hanya di-bully terkait dirinya yang merupakan transgender, Lucinta Luna belakangan tengah ramai dibicarakan terkait kasus penyalahgunaan zat psikotropika.

Belakangan ini pun, Lucinta Luna mengaku bahwa dirinya mengalami menstruasi sebagaimana wanita pada umumnya. Hal ini terjadi karena ia tidak hanya menjalani operasi penggantian kelamin, tetapi juga melakukan transplantasi rahim. Orang-orang menjadi mempertanyakan kebenaran hal ini. Nah, berikut ini fakta mengenai transplantasi rahim yang mungkin masih banyak belum diketahui orang.

Lebih Besar Risiko Ketimbang Manfaatnya
Transplantasi rahim adalah prosedur bedah yang hingga saat ini masih dalam uji klinis. Pembedahan ini dilakukan untuk memperbesar kemungkinan seseorang untuk bisa hamil. Sayangnya, prosedur ini mengandung risiko yang jauh lebih besar daripada potensi manfaatnya.

Melansir UT Southwest Medical Center, banyak dokter kandungan yang tidak merekomendasikan transplantasi rahim. Mereka meyakini bahwa masih banyak cara yang bisa ditempuh untuk bisa memiliki anak. Hingga kini, transplantasi rahim tidak tersedia di luar tujuan penelitian. Salah satu lembaga penelitian yang berhasil mencetak kelahiran hidup dari transplantasi rahim adalah Cleveland Clinic. Namun, mereka pun menggunakan donor dari wanita yang baru saja meninggal untuk mengurangi risiko transplantasi yang terjadi jika dilakukan oleh pendonor yang masih hidup.

Baca Juga : Hindari Dan Waspadai Gangguan Pada Testosteron

Transplantasi organ adalah prosedur utama yang membutuhkan persiapan fisik dan mental yang besar. Beberapa risiko yang terkait dengan transplantasi rahim mirip dengan yang terkait dengan transplantasi organ lain. Usai menjalankan transplantasi rahim, seseorang harus mengonsumsi obat imunosupresan dengan dosis yang kuat untuk mencegah sistem imun tubuh menyerang organ baru yang dianggap sebagai benda asing.

Efek samping potensial dari obat imunosupresan juga sebanding dengan risiko prosedur penyelamatan nyawa seperti transplantasi jantung atau paru-paru. Namun, untuk prosedur pembedahan yang dimaksudkan untuk menghasilkan kehamilan, risikonya lebih besar daripada manfaat potensial. Meskipun dokter berusaha untuk mengoptimalkan perawatan obat ini sebelum kehamilan, obat-obatan ini malah dapat menyebabkan berat badan bayi yang lahir rendah, kelahiran prematur, dan peningkatan risiko cacat lahir.

Bukan Langkah Permanen
Faktanya, prosedur transplantasi rahim juga tidak dimaksudkan untuk menjadi hal yang permanen. Jika transplantasi berhasil, konsumsi obat imunosupresan dalam jangka panjang dikhawatirkan dapat mengancam jiwa. Jadi, seseorang harus menjalani histerektomi (pengangkatan rahim) setelah satu atau dua kehamilan.

Ini Prosedurnya
Prosedur transplantasi rahim bisa memakan waktu 6 hingga 8 jam. Sebelum melakukannya, wanita harus memulai dengan minum obat imunosupresan. Prosedur transplantasi menghubungkan pembuluh darah donor ke penerima donor. Jika penerima donor ingin memiliki anak dan rahim sudah siap, maka embrio akan dipindahkan. Beberapa bulan setelah transplantasi, penerima mulai mengalami menstruasi.

Rahim akan sepenuhnya siap setelah 6 bulan. Kehamilan yang terjadi terus dipantau dan persalinan dilakukan dengan operasi caesar. Setelah 1 hingga 2 kehamilan, rahim akan diangkat agar penerima donor menghentikan konsumsi obat imunosupresan.

Related posts