Lebanon Dilanda Krisis Ekonomi

Lebanon Dilanda Krisis Ekonomi – Pandemi membuat kita menjadi merasa bahwa beban yang biasa kita tanggung menjadi lebih berat dari sebelumnya. Seperti Lebanon yang mengalami krisis ekonomi yang membuat keadaanya semakin memburuk. Lebanon telah mengalami krisis ekonomi dan keuangan parah sejak 2019. Bank Dunia bahkan menyebutnya sebagai salah satu krisis global paling parah dalam lebih dari 150 tahun.

Ini dikarenakan terjadi banyak kelangkaan di negara itu, mulai dari makanan hingga bahan bakar dan juga listrik. Selain itu, negara itu juga kekurangan pasokan uang. Kesengsaraan Lebanon berakar dari masa lalu. Menurut Ekonom Libanon, Nisreen Salti, ini semua berawal dari era setelah berakhirnya Perang Saudara Lebanon.

Lebanon Dilanda Krisis Ekonomi

Krisis melanda Lebanon

Kondisi di negara ini semakin parah pada akhir tahun lalu, ketika bank sentral negara itu meminjam dari bank-bank komersial dengan suku bunga di atas pasar untuk membayar kembali utangnya dan mempertahankan nilai tukar tetap pound Lebanon terhadap dolar AS. Para analis melabeli kegiatan ini sebagai skema piramida yang disponsori negara atau skema Ponzi.

Di tengah kisruh ini, rakyatnya yang sengsara semakin marah dan frustasi atas kegagalan pemerintah untuk menyediakan layanan dasar di negara itu. Mereka harus berurusan dengan pemadaman listrik setiap hari, kekurangan air minum yang aman, layanan kesehatan publik yang terbatas, dan bahkan menghadapi salah satu koneksi internet terburuk di dunia.

Parahnya, para elit penguasa negara itu tidak hanya gagal melakukan reformasi besar-besaran yang diperlukan untuk memecahkan masalah negara, tapi juga tidak memedulikan rakyatnya dan malah mengumpulkan kekayaan mereka sendiri.

Rakyat Lebanon hidup menderita

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan bahwa dalam waktu kurang dari dua tahun, krisis keuangan dan ekonomi Lebanon telah membuat sekitar tiga perempat populasi jatuh miskin. Kondisi ini juga telah mendevaluasi (menghilangkan nilai) pound Lebanon sekitar 90 persen.

Berita PBB memperkirakan bahwa 78 persen (sekitar tiga juta orang) penduduk Lebanon hidup di bawah garis kemiskinan, di mana 36 persennya hidup dalam kemiskinan ekstrem. PBB juga mengatakan bahwa hampir seperempat dari populasi negara itu tidak dapat memenuhi kebutuhan makanan mereka pada akhir tahun lalu. Atas dasar ini, PBB telah menyerukan kepemimpinan negara itu untuk segera menerapkan reformasi.

Lebanon kekurangan bermacam-macam kebutuhan

Juru bicara Program Pangan Dunia, Rasha Abou Dargham, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa permintaan bantuan makanan sangat tinggi dari negara itu. Organisasi tersebut sekarang memberikan bantuan makanan kepada satu dari empat orang di negara tersebut. “Kami belum pernah melihat kebutuhan yang meningkat ini di antara penduduk Lebanon sebelumnya,” katanya. “Sayangnya, kami sekarang adalah badan [PBB] terbesar di Lebanon.”

Nilai mata uang negara itu yang telah turun hingga 90 persen terhadap dolar dan juga kesulitan warga mengakses tabungan mereka di bank-bank negara itu, telah membuat daya beli berkurang.

Krisis bahan bakar telah melumpuhkan sebagian besar Lebanon selama beberapa bulan terakhir, menyebabkan pemadaman listrik skala besar dan melumpuhkan rumah sakit. Krisis obat-obatan juga terjadi, dengan rak-rak apotek kehabisan stok obat, bahkan untuk obat penting untuk perawatan kanker. Kondisi ini telah menyebabkan orang-orang harus merogoh kocek lebih dalam untuk membelinya dengan harga yang meningkat melalui pasar gelap.