9 Langkah Memulihkan Trauma Masa Lalu

9 Langkah Memulihkan Trauma Masa Lalu

salutemondiale.web.id – Trauma dapat membuat emosi anda bergejolak saat dihadapkan pada pemicunya. Tanpa disadari, trauma dimasa lalu bisa mempengaruhi karier, hubungan, kesehatan dan seluruh kehidupan anda.

Untuk menyembuhkannya sebenarnya harus dilakukan pada saat peristiwa tersebut terjadi, namun tidak ada yang tidak mungkin, meski memakan waktu tetap ada harapan untuk pulih dari trauma masa lalu.

Menurut Andrea Brandt, Ph.D , seorang terapis pernikahan dan keluarga di Amerika serikat.

Baca juga : 6 Kebiasaan yang Mengganggu Kesehatan Mental

Lakukan langkah berikut:

1. Coba fokus pada diri sendiri
Untuk memulai proses pemulihan trauma, coba cari tempat tenang di mana Anda bisa fokus dan tidak akan terganggu. Pastikan Anda menggunakan pakaian yang nyaman untuk memulai proses yang satu ini. Jika sudah, duduklah dengan nyaman di lantai dengan mata terpejam.

Tarik napas dalam-dalam, lalu fokus dan rasakan kesadaran Anda sendiri. Rasakan betapa sejuknya lantai tempat Anda duduk. Bayangkan aliran energi dari tulang ekor Anda hingga ke lantai tempat Anda duduk. Pusatkan pikiran pada tubuh Anda sendiri tanpa terganggu hal lainnya.

2. Ingat kembali memori masa lalu
Sekarang, coba ingat kembali situasi atau peristiwa yang membuat Anda kesal baru-baru ini. Kemudian, temukan sesuatu yang memicu emosi Anda. Ingat kembali sedetail mungkin dan bayangkan diri Anda ada di masa tersebut. Coba lihat dan rasakan lagi emosi yang muncul ketika itu.

3. Rasakan emosinya
Selanjutnya, bernapaslah dalam-dalam hingga Anda bisa kembali tenang. Kemudian, biarkan tubuh Anda merasakan berbagai emosi. Coba amati dan fokus terhadap respon fisik yang muncul saat itu, apakah kesemutan, sesak, kepala sakit, atau lainnya.

Berbagai sensasi ini nantinya akan dibutuhkan untuk memahami kembali trauma masa kecil yaang pernah Anda alami. Setelah Anda merasakan berbagai sensasi ini, jelaskan perasaan ini pada diri Anda sedetail mungkin seolah Anda berbicara pada diri sendiri di dalam hati.

4. Kenali dan namai setiap sensasi
Saat Anda merasakan emosi yang bergejolak, coba kaitkan dengan sensasi yang Anda rasakan saat itu, apakah rasa cemas membuat dada sesak atau adakah perasaan marah yang membuat tubuh terasa panas? Coba rasakan dan katakan pada diri di dalam hati apa yang Anda rasakan. Dengan mengenali berbagai sensasi ini, Anda akan lebih mudah memahami tentang diri dan tubuh.

5. Cintai setiap emosi dan sensasi yang dirasakan
Untuk menyembuhkan trauma masa kecil, Anda harus bisa menerima semua hal yang dirasakan oleh tubuh. Katakan pada diri bahwa Anda suka dan senang merasakan berbagai emosi ini. Lakukan hal ini pada setiap emosi yang sedang Anda rasakan misalnya “Saya cinta terhadap diri saya karena perasaan (marah, sedih, cemas, dll). Dengan mencintai setiap emosi yang dirasa, perlahan Anda akan menerimannya bahwa itu merupakan hal yang normal.

6. Coba rasakan dan lakukan
Tetaplah fokus pada emosi dan sensasi yang menyertainya. Biarkan perasaan ini meresap ke dalam diri dan mengalir begitu saja. Jangan coba untuk menahannya atau menyembunyikannya. Kemudian, biarkan tubuh merespon emosi dan sensasi dengan berbagai hal yang diinginkan atau perlu dilakukan.

Jika Anda merasa ingin menangis, menangislah sepuasnya. Begitu pun jika Anda ingin berteriak atau memukul sesuatu. Lakukan apa yang tubuh Anda inginkan saat itu. Anda bisa berteriak kencang atau meninju dengan mata yang tetap terpejam dalam posisi yang tetap sama.

7. Ambil pesannya
Apakah emosi yang Anda rasakan sekarang telah terhubung dengan peristiwa masa lalu yang membuat trauma? Apakah Anda mulai menyadari berbagai hal negatif yang membatasi diri Anda adalah akibat trauma masa kecil? Jika iya, cermati baik-baik dan ambil pesan moralnya. Anda pasti bisa menemukannya.

Namun, jika Anda merasa tak mendapatkan apa-apa coba tulis semua perasaan dan emosi yang Anda rasakan dalam secarik kertas. Lakukan hal ini selama 10 menit tanpa henti. Kemudian, coba pikirkan kira-kira pesan apa yang sedang coba dikirim oleh emosi Anda saat ini.

8. Cobalah untuk berbagi dengan orang lain
Apakah Anda memiliki seseorang yang bisa diajak berbagai soal perasan dengan nyaman? Jika iya, cobalah ceritakan padanya mengenai perasaan Anda saat ini. Namun jika tidak, tuliskan berbagai perasaan yang dirasakan mengenai trauma masa kecil Anda.

Tuliskan peristiwa apa yang menjadi pemicu awalnya dan bagaimana reaksi Anda saat itu. Kemudian, tuliskan pula apa yang Anda rasakan saat ini. Jangan berpikir bahwa hal ini tak ada gunanya.. Meski terlihat sepele, berbagi cerita dengan berbicara atau menuliskannya menjadi cara efektif untuk mengeluarkan emosi yang selama ini terpendam.

9. Lepaskan dan buang semuanya
Setelah Anda menceritakan atau menuliskan semua hal yang dirasakan sekarang saatnya Anda melakukan ‘ritual’ untuk melepaskan emosi dari trauma terdahulu. Caranya bisa dengan membakar surat yang baru Anda tulis tadi atau membuang benda yang membuat trauma masa kecil Anda muncul.

Apapun caranya, intinya lepaskan dan buang semua hal yang bisa membuat Anda teringat kembali akan hal itu. Hilangkan trauma, emosi, dan sensasi yang menyertainya dengan membuang dan melepas segala hal yang berkaitan dengannya.

6 Kebiasaan yang Mengganggu Kesehatan Mental

6 Kebiasaan yang Mengganggu Kesehatan Mental

salutemondiale.web.id – Musuh terbesar anda bukan orang lain, tetapi diri anda sendiri. Meskipun sering di sepelekan pikiran dan kebiasaan anda dapat mempengaruhi suasana hati yang dapat mengganggu kesehatan mental anda.

Gangguan mental sama seperti Kesehatan tubuh anda, jika gejala gangguan mental dibiarkan maka akan menghambat aktivitas anda sehari-hari.

Baca juga : Penderita Diabetes Dapat Dibantu Dengan Sayuran

Berikut kebiasaan yang bisa mengganggu kesehatan mental anda:

1. Pesimis
Orang yang pesimis cenderung tidak mempunyai harapan baik dan mudah putus asa. Karena itu, pesimisme tidak hanya memengaruhi cara Anda memandang hidup, tetapi juga mengganggu kesehatan mental Anda. Hilang harapan dan rasa putus asa, jika dibiarkan berlarut-larut, bisa menjadi salah satu gejala gangguan mood, yaitu depresi.

Maka, belajarlah untuk berpikir positif. Kenali kelemahan dan kekuatan Anda, dan fokuslah pada kekuatan Anda tersebut. Jangan hanya berkutat pada kelemahan Anda atau situasi buruk yang sedang dihadapi.

2. Perfeksionis
Sikap perfeksionis cenderung membuat seseorang menginginkan semua hal sempurna, berjalan sesuai rencana, dan tanpa cacat cela. Standar yang sempurna ini tidak jarang membuat seseorang kecewa dan sedih, terlebih jika apa yang direncanakan tidak menjadi nyata. Bila tidak dikendalikan, Anda menjadi rentan terhadap gangguan kecemasan (anxiety disorder).

Tetapkan tujuan yang realistis, lebih dapat dicapai, dan hadapi kesalahan atau kegagalan sebagai bentuk pembelajaran. Jika Anda sudah mulai cemas, tenangkan diri Anda dengan teknik-teknik relaksasi, misalnya menarik napas panjang.

3. Pikiran obsesif
Obsesi adalah pikiran negatif yang muncul dan tidak terkendali serta berulang akan suatu kejadian masa lalu atau yang sedang dihadapi.

Misalnya Anda terobsesi untuk selalu mengecek HP atau media sosial, tak mau ketinggalan informasi seremeh apa pun. Tidak pegang HP sebentar saja, dalam pikiran Anda sudah muncul hal-hal negatif seperti, “Bagaimana kalau tadi pasangan menelepon karena ada apa-apa?” atau, “Jangan-jangan daritadi ada klien yang menghubungi untuk menjadwalkan meeting penting?”.

Ini akan membuat tubuh dan otak Anda stres, membuat napas dan denyut jantung Anda meningkat cepat, dan tubuh akan melepaskan hormon stres adrenalin dan kortisol. Semua ini akan berdampak pada kesehatan fisik dan emosional Anda.

4. Rendah diri
Cara Anda menilai diri sendiri juga bisa mendukung atau justru mengganggu kesehatan mental Anda. Orang yang cenderung rendah diri, menilai dirinya serba kurang, membandingkan diri sendiri dengan orang lain, dan terlalu sering menyalahkan diri sendiri akan mudah stres dan depresi.

Lebih baik fokus pada apa yang Anda punya, maksimalkan potensi yang Anda miliki, buktikan pada diri sendiri kalau Anda punya segudang kemampuan, dan jangan terlalu memikirkan komentar orang lain tentang diri Anda.

5. Kurang tidur
Tidur adalah cara tubuh melakukan regenerasi. Karena itu, kurang tidur tidak hanya membuat Anda mudah mengantuk, tetapi juga dapat mengacaukan kinerja sistem tubuh. Ini tentu akan mengganggu kesehatan mental Anda. Sejumlah penelitian telah membuktikan kaitan kurang tidur dengan berbagai jenis gangguan mental seperti depresi, bipolar disorder, dan ADHD.

Biasakan diri Anda untuk tidur 8 jam sehari. Atau jika Anda mengalami gangguan tidur, segera periksa ke dokter agar mengetahui penyebab dan cara mengatasinya.

6. Memendam amarah
Jangan salah, memendam amarah juga bisa mengganggu kesehatan mental seseorang. Dalam jurnal Advances tahun 2017, para ahli di Inggris menemukan bahwa orang-orang yang tidak bisa meluapkan amarahnya secara sehat lebih rentan mengalami berbagai gejala depresi.

Karena itu, belajarlah untuk meluapkan emosi dan mengungkapkan rasa marah, kecewa, dan perasaan negatif lainnya dengan baik. Jangan hanya dipendam sendirian, apalagi kalau sampai mengganggu kesehatan mental Anda.