Kehidupan Seks Dan Menopause

Kehidupan Seks Dan Menopause

salutemondiale.web.id Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Kehidupan Seks Dan Menopause. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Kehidupan Seks Dan Menopause

Menopause dapat memengaruhi wanita dalam banyak hal. Berhubungan intim bersama pasangan merupakan hal yang tidak seharusnya dilupakan meski sudah menopause. Namun, apakah masih memungkinkan? Perlu kamu ketahui bahwa menopause bukanlah sebuag penyakit, tetapi sebagai waktu transformatif dalam kehidupan seorang wanita.

Secara klinis, menopause adalah akhir dari menstruasi bulanan yang teratur pada wanita. Salah satu gejala menopause yang paling diabaikan adalah menurunnya hasrat berhubungan intim. Kurangnya keinginan, kekeringan pada vagina, dan rasa sakit saat berhubungan seks dapat terjadi akibat perubahan kadar hormon. Nyatanya, berhubungan intim setelah menopause tetap bisa menyenangkan, lho!

Temukan Kembali Libido
Libido merupakan aspek kompleks dari seksualitas. Mungkin banyak orang yang tidak nyaman membahasnya, bahkan baru mencari tahu makna libido setelah menopause terjadi.Menemukan cara baru untuk mengubah gairan dan saat-saat menyenangkan, seperti terapi fisik panggul atau peremajaan laser vagina, juga mengembalikan keintiman dalam hubungan. Penggabungan perubahan gaya hidup, teknologi, dan obat-obatan dapat membantu mempertahankan gairah dengan pelumasan vagina dan perubahan jaringan vagina.

Kiat lain yang mungkin dapat dilakukan termasuk:

Mengubah rutinitas seksual.
Fokus pada pemanasan.
Penggunaan alat bantu seksual.

Jalankan Gaya Hidup Sehat
Selain dapat meningkatkan daya tahan tubuh, berolahraga merupakan cara untuk meningkatkan gairah seks. Rutin berolahraga merupakan salah satu cara terbaik yang dapat dilakukan demi meningkatkan libido. Olahraga yang teratur diimbangi dengan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi serta istirahat yang cukup, tentunya merupakan kunci agar gairah seksual tetap terjaga di masa-masa menopause.

Ciptakan juga gaya hidup berpasangan yang lebih intim dan romantis. Menciptakan momen-momen keintiman berdua dengan pasangan merupakan salah satu kunci menjaga gairah seksual. Tunjukkan rasa cinta dan kasih sayang bersama pasangan dengan makan malam romantis. Ucapkan kalimat-kalimat yang menyenangkan dan romantis pada pasangan di pagi hari saat bangun tidur dan disertai dengan kecupan hangat dan belaian halus.

Sementara organ vital wanita mengalami kekeringan saat menopause, tidak ada salahnya untuk menyiapkan pelumas agar kegiatan hubungan intim lebih menyenangkan tanpa ada gangguan rasa sakit. Selain pelumas, pelembap khusus organ vital juga dapat digunakan secara teratur demi menjaga kelembapan di area organ intim.

Apapun yang terjadi, nikmatilah hidup bersama pasangan tersayang. Cobalah untuk menghadapi dan membicarakan masalah yang ada dengan pasangan agar terhindar dari stres. Dengan adanya stres, maka gairah seksual pun tentunya akan menurun drastis, sehingga kamu tidak dapat menikmati momen intim dengan pasangan.

Cobalah Sesuatu yang Baru
Kamu tidak perlu khawatir menopause dapat mengurangi gairah seksual. Kamu dapat mengatasinya dengan mencari tahu dan mencoba sesuatu yang baru pada saat berhubungan intim, seperti memulai untuk mencoba posisi seks yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Jangan lupa juga untuk mempertimbangkan faktor usia. Mencoba posisi baru sah-sah saja, tetapi faktor kenyamanan jangan dilupakan, ya! Karena usia tidak bisa bohong, maka gunakanlah bantal sebagai penyangga tulang agar lebih nyaman saat berhubungan intim.

Mungkinkah Wanita Hamil Setelah Menopause?

Saat usia reproduktif, tubuh wanita memiliki persediaan sel telur yang mencukupi dan pastinya sehat untuk dibuahi. Melansir dari Healthline, proses produksi sel telur yang sehat ini membutuhkan bantuan berbagai hormon seperti progesteron, estrogen, luteinizing hormone (LH), dan follicle hormone (FSH). Produksi sel telur ini disebut sebagai masa ovulasi, sehingga saat sel telur berhasil dibuahi oleh sperma laki-laki, maka kehamilan akan terjadi dan menstruasi tidak terjadi.

Namun, wanita yang sedang memasuki masa menopause tidak langsung berhenti menghasilkan sel telur. Memasuki fase menopause, kadar hormon estrogen dan progesteron perlahan berkurang dalam jangka waktu 1 hingga 2 tahun. Periode ini disebut perimenopause, ditandai dengan siklus menstruasi yang tidak beraturan. Kesuburan menurun karena ovulasi sulit terjadi, tetapi menstruasi masih terjadi jika hormon dalam jumlah yang optimal. Kebanyakan wanita mengalami menopause di usia 50 tahun atau lebih.

Di waktu ini, kadar LH dan FSH kamu tetap tinggi namun kadar estrogen dan progesteron tetap rendah. Ketidakseimbangan hormon ini membuat ovarium tidak melepaskan sel telur. Akibatnya, menstruasi berhenti total dan tidak dapat hamil lagi.

Jadi beberapa wanita yang belum sepenuhnya mengalami menopause, atau dalam masa perimenopause yang ditandai dengan menstruasi yang tidak teratur nyatanya masih dapat mengalami kehamilan. Perimenopause berlangsung selama beberapa tahun sampai tiba masa menopause.

Perubahan-Perubahan yang Terjadi Setelah Menopause
Selain berhentinya siklus menstruasi, menopause juga akan menyebabkan terjadinya berbagai perubahan di dalam tubuh wanita. Masa di mana perubahan ini terjadi disebut dengan masa perimenopause, biasanya berlangsung selama beberapa tahun sebelum menopause. Perimenopause umumnya dimulai saat seorang wanita berusia 40 tahun atau bisa juga lebih awal.

Durasi dan tingkat keparahan gejala yang muncul menjelang menopause bisa berbeda-beda antara satu wanita dengan yang lainnya. Memasuki masa menopause, ada berbagai perubahan serta gejala yang muncul, di antaranya:

1. Siklus Menstruasi
Salah satu perubahan yang pasti terjadi menjelang masa menopause adalah siklus menstruasi. Kondisi ini bisa menyebabkan seseorang mengalami menstruasi yang tidak teratur. Menjelang menopause, wanita mungkin saja mengalami datang bulan lebih cepat atau lebih lambat dari biasanya. Tanda menopause juga bisa dikenali melalui darah yang keluar menjadi lebih sedikit atau justru lebih banyak.

2. Penampilan Fisik
Ternyata, menopause juga menyebabkan wanita mengalami perubahan pada penampilan fisik. Menjelang masa ini, beberapa wanita akan mengalami rambut rontok, berat badan bertambah, payudara mengendur, serta kulit menjadi mudah kering.

3. Perubahan Psikologis
Tidak hanya pada fisik, menopause juga bisa menyebabkan seorang wanita mengalami perubahan psikologis. Menjelang habisnya siklus menstruasi, seorang wanita menjadi rentan mengalami gangguan, seperti insomnia alias sulit tidur di malam hari, depresi, serta perubahan suasana hati yang terjadi mendadak.

4. Perubahan Fisik
Selain penampilan, menopause juga bisa menyebabkan perubahan pada fisik wanita. Dalam hal ini, wanita menjadi lebih mudah merasa panas atau gerah karena mudah berkeringat. Kondisi ini disebut dengan hot flashes dan biasanya lebih sering terjadi pada malam hari. Kondisi ini juga menyebabkan wanita mengalami pusing, jantung berdebar, serta infeksi berulang pada saluran kemih.

5. Risiko Osteoporosis
Wanita yang sudah memasuki masa menopause juga lebih berisiko mengalami osteoporosis. Bahkan, wanita yang sudah memasuki masa menopause disebut memiliki risiko hingga 4 kali lebih besar mengalami penyakit ini. Hal ini disebut berkaitan dengan perubahan hormon yang terjadi, terutama hormon estrogen. Berkurangnya hormon estrogen memengaruhi risiko seorang wanita mengalami gangguan tulang, seperti osteoporosis atau osteoarthritis.

Related posts