Berbagai berita kesehatan umum, anak, reproduksi dan seks, kecantikan dan kebugaran, penyakit menular, dan produk serta layanan kesehatan di Indonesia.

Kesehatan gigi bagi anak itu penting

Kesehatan gigi bagi anak itu penting

Kesehatan gigi bagi anak itu penting – Banyak yang menganggap sepele jika kesehatan pada gigi itu tidak penting, nyatanya orang – orang tidak memperhatikan hal kecil pada kerusakan gigi yang nantinya berujung fatal.

Penelitian yang dilakukan seorang profesor biomaterials dari Universitas Oslo Norwegia membuktikan, gigi adalah satu-satunya organ tubuh yang tidak bisa regenerasi atau tumbuh kembali.

Sel pada gigi yang berperan penting dalam proses penyembuhan rupanya sangatlah sedikit sehingga menjadi penyebab sulitnya gigi untuk beregenerasi. Oleh karena itu, gigi yang rusak tidak akan bisa diperbaiki. Meskipun bisa dilakukan implan, biaya yang dibutuhkan akan merogoh kocek yang tidak sedikit.

Baca Juga :

Untuk itu, gigi implan sebagai salah satu alternatif perbaikan gigi tidak seharusnya dijadikan alasan untuk menyia-nyiakan kesehatan gigi. Seperti yang disebutkan Dr. Bill So, dilansir dari chron.com, Minggu (27/1/2019) kendati tingkat kesuksesan implan yang mencapai 95 persen, tetap ada kemungkinan resiko komplikasi atau infeksi seperti cedera syaraf, sinus, atau pada rongga hidung.

Hal ini kemudian membuat alternatif regenerasi gigi masih menjadi misteri di dunia kesehatan, karena sampai sekarang, masih belum ditemukan cara untuk memperbaiki gigi yang rusak selain dengan gigi implan yang terbilang sangat mahal. Dengan demikian, penting bagi para orangtua untuk memperhatikan tumbuh kembang anak, khususnya terkait kesehatan gigi, agar tidak menyesal nantinya.

Untuk itu, daripada menghabiskan banyak uang nantinya, sebaiknya para orangtua mulai memperhatikan kesehatan gigi anak dengan cara merawatnya sejak dini.

dunia kesehatan kanker serviks

Penemu Vaksin Kanker Serviks Ternyata Orang Indonesia

Penemu Vaksin Kanker Serviks  – Kanker Serviks sudah menjadi momok yang menakutkan untuk sebagian kalangan wanita di dunia,dan angka kematian akibat kanker serviks lumayan besar, Kanker ini terjadi karena ada pertumbuhan sel-sel secara abnormal sehingga memiliki kemampuan untuk menyerang atau menyebar ke bagian lain tubuh.Pada awalnya, gejala tidak terlihat. Gejala yang ada mungkin termasuk pendarahan vagina abnormal, nyeri panggul, atau rasa sakit selama melakukan hubungan seksual. Pendarahan setelah melakukan hubungan seksual mungkin dapat mengindikasikan adanya kanker serviks.

Human papilomavirus (HPV) menjadi penyebab lebih dari 90% kasus. Namun kebanyakan orang yang terinfeksi HPV tidak mengembangkan kanker serviks. Faktor yang menjadi risiko antara lain rokok, sistem kekebalan tubuh yang lemah, pil KB, melakukan hubungan seksual di usia muda, dan melakukan hubungan seksual dengan banyak pasangan. Kanker serviks biasanya berkembang dari prakanker selama lebih dari 10 sampai 20 tahun.Sekitar 90% dari kasus kanker serviks adalah karsinoma sel skuamosa, 10% adalah adenokarsinoma, dan sisanya yang lainnya. Diagnosis biasanya dilakukan dengan skrining serviks diikuti dengan biopsi. Pencitraan medis kemudian dilakukan untuk menentukan apakah kanker telah menyebar.

Vaksin HPV melindungi dari dua sampai tujuh famili virus yang beresiko dan mungkin mencegah kanker serviks sampai 90%. Dengan resiko kanker yang masih ada, disarankan untuk melakukan pap smear secara rutin. Cara lain untuk mencegahnya termasuk: tidak sering melakukan hubungan badan dan penggunaan kondom. Skrining kanker serviks menggunakan pap smear atau asam asetat dapat mengidentifikasi perubahan prakanker yang bisa diobati dan untuk mencegah perkembangan kanker. Pengobatan kanker serviks dapat dilakukan dengan beberapa kombinasi antara lain operasi, kemoterapi, dan radioterapi. Tingkat kelangsungan hidup penderita selama lima tahun di Amerika Serikat adalah 68%. Hasilnya sangat bergantung pada seberapa dini kanker terdeteksi.

Sekarang ada secercah harapan untuk mengobati Kanker yang sering menyerang wanita tersebut, tahukah Anda kalau ilmuwan penemu vaksin pencegahannya juga berasal dari Indonesia?

Dialah Richard Rianto Rustandi. Pria 53 tahun asal Bogor yang kini bekerja sebagai salah seorang ilmuwan di perusahaan penyedia layanan kesehatan global terkemuka asal Amerika, Merck Sharp and Dohme (MSD). Profesor dari Universitas Chicago ini mengaku bekerja siang malam selama delapan tahun sejak 2001 lalu, hanya untuk meneliti seberapa bahayanya virus HPV.Kerja keras itupun akhirnya berbuah manis dengan lahirnya vaksin HPV quadrivalent. “Vaksin ini merupakan penelitian pertama saya sejak bekerja di MSD. Itu penelitiannya sampai delapan tahun,” ujarnya.

Menurut Richard, virus HPV yang memiliki 130 tipe, sangat berbahaya.Bahkan organisasi kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2010 lalu memerkirakan, 11,4 persen wanita dengan pap smear normal, terinfeksi HPV. Selain itu virus juga dapat dideteksi pada 99,7 persen wanita yang terdiagnosis menderita kanker serviks.Virus ini sangat menular melalui segala aktivitas yang memungkinkannya ada kontak kelamin terhadap orang yang terinfeksi. Karena itu tidak heran jika kemudian di Indonesia, setiap hari kurang lebih 38 kasus kanker serviks ditemukan dan hampir 70 persen kasus ditemukan dalam kondisi stadium lanjut.

“Sebagian besar wanita baru mengetahui mereka terinfeksi setelah dilakukan test DNA HPV terhadap hasil tes pap smear yang abnormal. Setiap satu jam seorang wanita meninggal akibat kanker serviks,” paparnya.Namun bahaya virus tersebut kini telah dapat diantisipasi. Vaksin HPV quadrivalent menurut Richard dapat merangsang pembentukan respon imun dalam tubuh untuk melawan HPV dan memberikan perlindungan lebih lengkap terhadap kanker serviks dan penyakit yang diakibatkan virus HPV lainnya. Baik itu kutil kelamin, pra kanker vulva, pra kanker Miss V dan pra kanker anus.

Tanda dan Gejala Kanker Serviks

Tahap awal kanker serviks kemungkinan tanpa gejala. Pendarahan pada vagina dan pendarahan setelah hubungan seksual mungkin mengindikasikan adanya kanker. Nyeri selama berhubungan seksual dan keputihan juga bisa menjadi gejala kanker serviks.Gejala kanker serviks stadium lanjut meliputi kehilangan nafsu makan, berat badan menurun, kelelahan, nyeri pada panggul, nyeri punggung, nyeri pada kaki, kaki bengkak, dan pendarahan vagina berat. Pendarahan setelah pemeriksaan pelvis adalah gejala umum kanker serviks.

Baca juga: Peneliti Indonesia Berhasil Menemukan Obat Kanker Hati

Pencegahan Kanker Serviks

– Skrining

Memeriksa serviks dengan Pap smear, untuk kanker serviks telah mengurangi angka kasus dan kematian karena kanker serviks di negara berkembang,Skrining pap smear setiap 3-5 tahun dengan tindak lanjut yang sesuai dapat mengurangi terjadinya kanker serviks hingga 80%. Hasil yang abnormal mungkin menunjukkan perubahan ke pra kanker yang harus diikuti dengan penilaian dan tindakan penanganan yang tepat. Pengobatan lesi tingkat rendah dapat mempengaruhi kesuburan dan kehamilan berikutnya. Kampanye pemerintah untuk mengajak perempuan melakukan skrining berhasil meningkatkan minat melakukan skrining.

Menurut pedoman Eropa 2010, usia melakukan skrining berkisar antara usia 20 sampai 30 tahun. Jauh lebih baik jika dilakukan sebelum usia 25 tahun. Di Amerika Serikat, skrining direkomendasikan mulai dari usia 21 tahun. Pap smear harus dilakukan setiap tiga tahun pada usia 21 dan 65 tahun. Untuk wanita berusia diatas 65 tahun, skrining bisa dihentikan jika tidak ada hasil skrining abnormal selama 10 tahun terakhir dan tidak ada riwayat CIN 2 atau lebih tinggi.

Pap smear tidak efektif di negara berkembang karena kebanyakan tidak memiliki infrastruktur kesehatan yang baik, sumber daya manusia yang melakukan pap smear masih sedikit dan kurang keterampilan, kurangnya pemahaman wanita sehingga seringkali tidak ditindaklanjuti, dan lamanya hasil skrining keluar.

– Kontrasepsi

Penggunaan pelindung atau penggunaan gel spermatidal selama melakukan hubungan seksual dapat mengurangi risiko kanker. Kondom juga dapat melindungi dari infeksi HPV dan prekursor kanker serviks. Selain itu juga dapat melindungi dari HIV dan klamidia, yang sangat berisiko menimbulkan kanker.Kondom juga berguna mengobati perubahan pra-kanker yang berpotensi menjadi kanker serviks. Paparan sperma dapat meningkatkan risiko perubahan prakanker menjadi CIN 3 dan kondom dapat mencegahnya dan membantu membersihkan HPV. Kandungan prostaglandin pada sperma dapat memicu pertumbuhan tumor serviks dan rahim.

– Vaksinasi

Dua vaksin HPV (gardasil dan cervarix) dapat menurunkan risiko kanker atau perubahan pra kanker serviks sekitar 93%. Vaksin 92% sampai 100% efektif melawan HPV 16 dan 18 sampai dengan 8 tahun.Vaksin HPV umumnya diberikan pada usia 9 sampai 26 tahun dan hanya efektif jika diberikan sebelum infeksi terjadi. Vaksin efektif selama 4 sampai 6 tahun. Namun, durasi efektivitas tidak diketahui. Tingginya biaya vaksin menjadi perhatian. Beberapa negara melakukan program pendanaan vaksinasi HPV.

– Pemberian Nutrisi

Vitamin A, vitamin B12, vitamin C, vitamin E, dan beta karoten dapat menurunkan risiko kanker serviks.

Peneliti Indonesia Berhasil Menemukan Obat Kanker Hati

Peneliti Indonesia Berhasil Menemukan Obat Kanker Hati

Berita Kesehatan – Peneliti Indonesia dari Lembaga Eijkman, Korri Elvanita El Khobar S.Si, M.Phil, PhD berhasil menemukan bakal pengobatan kanker hati melalui identifikasi protein polo like kinase 1 (PLK1) yang ada di dalam http://108.179.216.137/ tubuh manusia yang bereaksi terhadap virus hepatitis.

“Identifikasi adanya gen PLK1 ini yang dapat digunakan sebagai penanda terjadinya kanker hati yang disebabkan oleh virus hepatitis C,” kata Korri.

Penemuan ini merupakan yang pertama di dunia dalam tesis yang diajukan Korri untuk meraih gelar Doctor of Philosophy di University of Sidney. Korri juga mengungkapkan, PLK1 juga bisa berfungsi untuk penanda deteksi kanker hati maupun sebagai skrining tingkat keparahan penyakit hati pada penderita hepatitis C. Molekul PLK1 yang ada di dalam tubuh manusia akan berubah ketika ada virus hepatitis C yang masuk ke dalam tubuh.

Bila sudah terinfeksi virus, unsur ini akan memberikan tanda-tanda atau gejala yang akan mengarah kepada keganasan suatu penyakit hati.Dengan ditemukannya tanda-tanda awal akan adanya suatu kanker hati melalui molekul PLK1 ini, dokter bisa melakukan pencegahan lebih dini. Lebih lagi, Korri memberikan catatan PLK1 juga bisa diterapkan pada penyakit Hepatitis B berdasarkan studi yang mengatakan PLK1 berperan dalam proses patogenesis virus hepatitis B.

Yang artinya metode ini bisa diterapkan sebagai penanda deteksi kanker hati pada penderita hepatitis C maupun hepatitis B. Selain itu, PLK1 juga bisa berpotensi untuk dijadikan pengobatan dengan metode target terapi baru untuk kanker hati yang disebabkan oleh virus hepatitis C.

 

Penemuan Obat Kanker Hati

“PLK1 dapat digunakan untuk strategi pengobatan hepatitis C pada masa yang akan datang, terutama apabila resistensi obat menjadi masalah klinis dengan cara mengurangi risiko timbulnya resistensi obat,” papar Korri.

Namun hasil penelitian PLK1 yang dilakukan Korri ini merupakan tahapan sangat awal atau dasar dan membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mematangkannya hingga menjadi suatu produk pengobatan agar bisa diterapkan kepada pasien. Ketua Unit Hepatitis sekaligus Deputi Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Profesor David Handojo Muljono mengatakan penemuan Korri ini apabila terus dikembangkan bisa menjadi pemecahan masalah banyaknya kasus kanker yang ditemui dalam stadium lanjut.

Prof David menganalogikan penemuan Korri ibarat penemuan listrik oleh Thomas Alfa Edison yang memerlukan penelitian lebih lanjut agar bisa menciptakan bola lampu. Oleh karena itu David berharap adanya estafet penelitian oleh peneliti lain dari lembaga lain serta dukungan pemerintah dan swasta untuk mengembangkan bakal pengobatan yang sangat berpotensi menjadi produk pengobatan yang bisa diterapkan bagi kepentingan masyarakat luas.

Korri melakukan penelitian tersebut secara individu selama 3,5 tahun di Australia sebagai tesis untuk meraih gelar doktor. David mengharapkan Korri segera mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual atas penelitian tersebut agar bisa dikembangkan di Indonesia.

Menurut David. hasil penelitian Korri juga bisa menjawab kemandirian obat dalam negeri yang dihasilkan oleh sumber daya manusia Indonesia secara langsung tanpa perlu bergantung impor obat dari negara lain.

1 5 6 7