Penemu Vaksin Kanker Serviks Ternyata Orang Indonesia

dunia kesehatan kanker serviks

Penemu Vaksin Kanker Serviks  – Kanker Serviks sudah menjadi momok yang menakutkan untuk sebagian kalangan wanita di dunia,dan angka kematian akibat kanker serviks lumayan besar, Kanker ini terjadi karena ada pertumbuhan sel-sel secara abnormal sehingga memiliki kemampuan untuk menyerang atau menyebar ke bagian lain tubuh.Pada awalnya, gejala tidak terlihat. Gejala yang ada mungkin termasuk pendarahan vagina abnormal, nyeri panggul, atau rasa sakit selama melakukan hubungan seksual. Pendarahan setelah melakukan hubungan seksual mungkin dapat mengindikasikan adanya kanker serviks.

Human papilomavirus (HPV) menjadi penyebab lebih dari 90% kasus. Namun kebanyakan orang yang terinfeksi HPV tidak mengembangkan kanker serviks. Faktor yang menjadi risiko antara lain rokok, sistem kekebalan tubuh yang lemah, pil KB, melakukan hubungan seksual di usia muda, dan melakukan hubungan seksual dengan banyak pasangan. Kanker serviks biasanya berkembang dari prakanker selama lebih dari 10 sampai 20 tahun.Sekitar 90% dari kasus kanker serviks adalah karsinoma sel skuamosa, 10% adalah adenokarsinoma, dan sisanya yang lainnya. Diagnosis biasanya dilakukan dengan skrining serviks diikuti dengan biopsi. Pencitraan medis kemudian dilakukan untuk menentukan apakah kanker telah menyebar.

Vaksin HPV melindungi dari dua sampai tujuh famili virus yang beresiko dan mungkin mencegah kanker serviks sampai 90%. Dengan resiko kanker yang masih ada, disarankan untuk melakukan pap smear secara rutin. Cara lain untuk mencegahnya termasuk: tidak sering melakukan hubungan badan dan penggunaan kondom. Skrining kanker serviks menggunakan pap smear atau asam asetat dapat mengidentifikasi perubahan prakanker yang bisa diobati dan untuk mencegah perkembangan kanker. Pengobatan kanker serviks dapat dilakukan dengan beberapa kombinasi antara lain operasi, kemoterapi, dan radioterapi. Tingkat kelangsungan hidup penderita selama lima tahun di Amerika Serikat adalah 68%. Hasilnya sangat bergantung pada seberapa dini kanker terdeteksi.

Sekarang ada secercah harapan untuk mengobati Kanker yang sering menyerang wanita tersebut, tahukah Anda kalau ilmuwan penemu vaksin pencegahannya juga berasal dari Indonesia?

Dialah Richard Rianto Rustandi. Pria 53 tahun asal Bogor yang kini bekerja sebagai salah seorang ilmuwan di perusahaan penyedia layanan kesehatan global terkemuka asal Amerika, Merck Sharp and Dohme (MSD). Profesor dari Universitas Chicago ini mengaku bekerja siang malam selama delapan tahun sejak 2001 lalu, hanya untuk meneliti seberapa bahayanya virus HPV.Kerja keras itupun akhirnya berbuah manis dengan lahirnya vaksin HPV quadrivalent. “Vaksin ini merupakan penelitian pertama saya sejak bekerja di MSD. Itu penelitiannya sampai delapan tahun,” ujarnya.

Menurut Richard, virus HPV yang memiliki 130 tipe, sangat berbahaya.Bahkan organisasi kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2010 lalu memerkirakan, 11,4 persen wanita dengan pap smear normal, terinfeksi HPV. Selain itu virus juga dapat dideteksi pada 99,7 persen wanita yang terdiagnosis menderita kanker serviks.Virus ini sangat menular melalui segala aktivitas yang memungkinkannya ada kontak kelamin terhadap orang yang terinfeksi. Karena itu tidak heran jika kemudian di Indonesia, setiap hari kurang lebih 38 kasus kanker serviks ditemukan dan hampir 70 persen kasus ditemukan dalam kondisi stadium lanjut.

“Sebagian besar wanita baru mengetahui mereka terinfeksi setelah dilakukan test DNA HPV terhadap hasil tes pap smear yang abnormal. Setiap satu jam seorang wanita meninggal akibat kanker serviks,” paparnya.Namun bahaya virus tersebut kini telah dapat diantisipasi. Vaksin HPV quadrivalent menurut Richard dapat merangsang pembentukan respon imun dalam tubuh untuk melawan HPV dan memberikan perlindungan lebih lengkap terhadap kanker serviks dan penyakit yang diakibatkan virus HPV lainnya. Baik itu kutil kelamin, pra kanker vulva, pra kanker Miss V dan pra kanker anus.

Tanda dan Gejala Kanker Serviks

Tahap awal kanker serviks kemungkinan tanpa gejala. Pendarahan pada vagina dan pendarahan setelah hubungan seksual mungkin mengindikasikan adanya kanker. Nyeri selama berhubungan seksual dan keputihan juga bisa menjadi gejala kanker serviks.Gejala kanker serviks stadium lanjut meliputi kehilangan nafsu makan, berat badan menurun, kelelahan, nyeri pada panggul, nyeri punggung, nyeri pada kaki, kaki bengkak, dan pendarahan vagina berat. Pendarahan setelah pemeriksaan pelvis adalah gejala umum kanker serviks.

Baca juga: Peneliti Indonesia Berhasil Menemukan Obat Kanker Hati

Pencegahan Kanker Serviks

– Skrining

Memeriksa serviks dengan Pap smear, untuk kanker serviks telah mengurangi angka kasus dan kematian karena kanker serviks di negara berkembang,Skrining pap smear setiap 3-5 tahun dengan tindak lanjut yang sesuai dapat mengurangi terjadinya kanker serviks hingga 80%. Hasil yang abnormal mungkin menunjukkan perubahan ke pra kanker yang harus diikuti dengan penilaian dan tindakan penanganan yang tepat. Pengobatan lesi tingkat rendah dapat mempengaruhi kesuburan dan kehamilan berikutnya. Kampanye pemerintah untuk mengajak perempuan melakukan skrining berhasil meningkatkan minat melakukan skrining.

Menurut pedoman Eropa 2010, usia melakukan skrining berkisar antara usia 20 sampai 30 tahun. Jauh lebih baik jika dilakukan sebelum usia 25 tahun. Di Amerika Serikat, skrining direkomendasikan mulai dari usia 21 tahun. Pap smear harus dilakukan setiap tiga tahun pada usia 21 dan 65 tahun. Untuk wanita berusia diatas 65 tahun, skrining bisa dihentikan jika tidak ada hasil skrining abnormal selama 10 tahun terakhir dan tidak ada riwayat CIN 2 atau lebih tinggi.

Pap smear tidak efektif di negara berkembang karena kebanyakan tidak memiliki infrastruktur kesehatan yang baik, sumber daya manusia yang melakukan pap smear masih sedikit dan kurang keterampilan, kurangnya pemahaman wanita sehingga seringkali tidak ditindaklanjuti, dan lamanya hasil skrining keluar.

– Kontrasepsi

Penggunaan pelindung atau penggunaan gel spermatidal selama melakukan hubungan seksual dapat mengurangi risiko kanker. Kondom juga dapat melindungi dari infeksi HPV dan prekursor kanker serviks. Selain itu juga dapat melindungi dari HIV dan klamidia, yang sangat berisiko menimbulkan kanker.Kondom juga berguna mengobati perubahan pra-kanker yang berpotensi menjadi kanker serviks. Paparan sperma dapat meningkatkan risiko perubahan prakanker menjadi CIN 3 dan kondom dapat mencegahnya dan membantu membersihkan HPV. Kandungan prostaglandin pada sperma dapat memicu pertumbuhan tumor serviks dan rahim.

– Vaksinasi

Dua vaksin HPV (gardasil dan cervarix) dapat menurunkan risiko kanker atau perubahan pra kanker serviks sekitar 93%. Vaksin 92% sampai 100% efektif melawan HPV 16 dan 18 sampai dengan 8 tahun.Vaksin HPV umumnya diberikan pada usia 9 sampai 26 tahun dan hanya efektif jika diberikan sebelum infeksi terjadi. Vaksin efektif selama 4 sampai 6 tahun. Namun, durasi efektivitas tidak diketahui. Tingginya biaya vaksin menjadi perhatian. Beberapa negara melakukan program pendanaan vaksinasi HPV.

– Pemberian Nutrisi

Vitamin A, vitamin B12, vitamin C, vitamin E, dan beta karoten dapat menurunkan risiko kanker serviks.

Related posts