Dimensi Psikologi Cinta

Dimensi Psikologi Cinta

salutemondiale.web.id – Dimensi Psikologi Cinta, Dalam dunia psikologi, ilmu pengetahuan mengenai cinta dibagi kedalam beberapa dimensi, walaupun dimensi ini tidak mutlak akan tetapi dipaercayai bahwa beberapa penggolongan mengenai perbendaharaan ruang-ruang dalam cinta sedikit banyak bisa disimpulkan secara logis, dan berikut merupakan beberapa penjelasan mengenai cinta dan dimensinya.

Dominasi dalam Cinta
Mengenai pilihan kata dominasi yang secara langsung merujuk pada sesuatu atau dalam hal ini seseorang yang menonjol dalam sebuah hubungan, begitupun dalam beberapa penelitian psikologi mengenai cinta yang juga mengenal kata dominasi.

Sampai pada masa sekarang dalam kehidupan bermasyarakat selalu diibaratkan bahwa seorang laki-laki selalu menjadi pihak yang mendominasi pasanganya, sebagai kodrat bahwa seorang lelaki merupakan seorang pemimpin dalam sebuah hubungan. Seorang laki laki secara tidak sadar diserahi sebuah jabatan sebagai pemimpin dalam rumah tangga, dan bertanggung jawab untuk mengelola sebuah hubungan.

Baca juga : 15 Jenis Kecerdasan Pada Manusia

Akan tetapi, sesuai dengan perkembangan jaman, dominasi dalam hubungan tidak hanya bisa disandang oleh seorang laki laki. Pada dasarnya dominasi dalam cinta atau hubungan berasal dari sumber daya pribadi seorang individu dan tingkat ketergantungan dalam hubungan yang sedang terjalin. Ada kalanya seorang perempuan yang sangat disukai oleh seorang laki laki bisa menjadi pihak yang dominan begitupun sebaliknya.

Beberapa sumber yang menjadikan seseorang bisa mendominasi dalam cinta tidak hanya berpatok pada seberapa dalam perasaan seseorang akan tetapi bisa juga oleh beberapa faktor, seperti misalnya penghasilan yang lebih besar, tingkat atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi, daya tarik fisik yang lebih tinggi, atau bisa juga karena adanya faktor kekerasan dan ancaman.

Dalam hal dominasi dalam cinta, ketika seseorang semakin dominan dalam sebuah hubungan maka akan berlaku bagi orang tersebut bisa mengatur dan mengelola hubungan tersebut

Penyingkapan Diri dalam Cinta
Penyingkapan diri dalam dunia psikologi dapat diartikan sebagai kegiatan membagi perasaan dan informasi yang akrab kepada pasangan. Seseorang yang sangat mencintai pasangannya akan cenderung lebih banyak menyingkapkan diri pada pasangannya.

Semakin banyak hal-hal yang disingkapkan oleh pasangan dapat diartikan bahwa hubungan dari kedua pasangan tersebut semakin dalam. Orang-orang yang memiliki jangka waktu hubungan yang lama dan bertahan selama bertahun-tahun dapat dipastikan pasangan tersebut lebih sering terbuka pada pasanganya masing-masing.

Biasanya penyingkapan diri dalam menjalani hubungan tidak hanya pada hal-hal yang bersifat umum seperti kebiasaan buruk, perasaan yang dirasakan, peristiwa yang dialami, kisah masa lalu atau bahkan rahasia pribadi jika disingkapkan dengan pasangan akan menjadi sebuah kepercayaan tersendiri sehingga membuat pasangan lebih terikat satu sama lain.

Ada satu prinsip ydalam proses penyingkapan diri dalam menjalani hubungan, yaitu menyingkapkan diri sesuai dengan apa yang pasangan singkapkan juga. Keseimbangan dalam penyingkapan diri akan membuat hubungan cinta lebih nyaman karena tidak ada yang mendominasi dalam hal mengetahui dan menginformasikan diri dari pasanganya.

Komitmen dalam Cinta
Ketika dihadapkan dengan sebuah istilah perasaan yang dinamakan cinta, sebagian besar ahli psikologi akan mengungkapkan bahwa cinta merupakan sebentuk emosi yang dimiliki oleh manusia, dan sebagai mana bentuk emosi pada dasarnya yang sulit bertahan lama, padahal dalam hubungan percintaan semua pasangan berharap bisa bertahan selamanya.

Berawal dari hal tersebut, lahirlah sebuah komitmen yang dapat mengikat cinta agar dapat melewati pasang surutnya emosi manusia. Adanya sebuah komitmen bisa jadi dapat menjamin keberlangsungan hubungan cinta. Jika tidak mengenal komitmen, ketika cinta dihadapkan dalam sebuah konflik akan rawan adanya kegagalan dalam hubungan.

Dalam ilmu psikologi, komitmen diartikan sebagai keadaan psikologis ketika seseorang merasa terikat atau terhubung dengan orang lain, dan secara langsung akan mempengaruhi keputusan seseorang untuk meanjutkan atau mengakhiri sebuah hubungan. Ketika kedua pasangan memiliki komitmen yang tinggi maka pasangan tersebut akan merasa sangat terikat pada satu sama lain dan tidak memiliki keinginan untuk menyerah dan mengakhiri hubungan, mereka akan berupaya memperbaiki hubungan ketika menghadapi sebuah konflik.

Sebaliknya pasangan yang memiliki komitmen yang rendah terhadap satu sama lain akan cenderung sangan menyepelekan keterikatan yang terjalin diantara keduanya, mereka akan saling tidak menghargai satu sama lain, dan ketika ada sebuah konflik akan dengan sangat tergesa-gesa mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan.

Komitmen yang terjalin dalam sebuah hubungan pada umumnya merupakan sebuah hasil dari suatu proses ketimbang muncul secara spontan dan tiba-tiba. Komitmen akan muncul ketika pasangan merasa saling nyaman dan sama-sama memiliki kepuasan dalam menjalani sebuah hubungan.

Komitmen dalam psikologi cinta memiliki dua kategori, yang pertama adalah komitmen mendekat dan komitmen menghindar.

Komitmen Mendekat
Jenis komitmen yang ditandai dengan keinginan melanjutkan hubungan karena bisa mendapatkan sesuatu yang positif, misalnya dengan mempercayai bahwa dengan berkomitmen akan menjadikan kehidupanya lebih bahagia.

Komitmen Menghindar
Keinginan melanjutkan hubungan karena khawatir dampak negatif jika saja hubungan yang sedang dibinanya pada akhirnya bubar atau berakhir. Komitmen semacam ini bisa diartikan sebagi sebuah bentuk pertahanan diri, misalnya was-was atau khawatir jika saja tidak akan mendapatkan pasangan yang sepadan, takut kehilangan sumber finansial, atau ketakutan seperti tidak lagi mendapat perhatian dari keluarga atau orang-orang terdekat. Orang-orang yang memiliki tipe komitmen menghindar akan cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup yang rendah.

Kelekatan dalam Cinta
Konsep kelekatan dalam dunia psikologi merupakan sebuah konsep dasar, walaupun diluar dinia psikologi tidak begitu dikenal. Konsep ini menjelaskan mengenai hal mendasar yang ada dalam diri manusia tentang bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain. Kelekatan dalam cinta sendiri memiliki tiga model yang umumnya dimiliki oleh seseorang, dan berikut merupakan penjelasannya.

  • Tipe kelekatan aman, orang yang memiliki tipe kelekatan aman akan cenderung memiliki kepercayaan yang penuh pada pasangan yan dicintainya. Selalu mencoba mendekat dengan pasangan yang dicintainya dengan mempertimbangkan akan tetap menjadi diri sendiri dimanata pasangannya.
  • Tipe kelekatan menghindar, orang yang memiliki tipe kelekatan menghindar pada umumnya akan mengalami suatu perasaan yang tidak nyaman ketika mengalami kedekatan dan keintiman dengan pasanganya. Tipe seperti ini juga akan cenderung enggan dan sulit memepercayai pasanganya dan berusaha menjaga hungan agar tidak terlalu intim.
  • Tipe kelekatan ambivalen, tipe kelekatan ini ditandai dengan dorongan untuk meleburkan diri sepenuhnya dengan orang yang dicintai, tipe ini akan cenderung merasa tidak bisa hidup tanpa adanya seseorang untuk dicintai, dan memiliki tingkat kecemasan yang tinggin akan ditinggal oleh pasangan, takut diabaikan, dan memiliki kekhawatiran bahwa sebenanya pasanganya tidak sungguh-sungguh mencintainya.

Kepuasan dalam Cinta
Sebagai hasil dari menjalani hubungan percintaan dengan orang lain adalah untuk mendapatkan kepuasan dalam hubungan. Sebagian penelitian menunjukan bahwa ketidak berhasilan dalam hubungan cinta pada umumnya tidak disebabkan oleh hilanganya cinta, akan tetapi karena ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan yang terbangun selama menjalani hubungan.

Hubungan yang memuaskan adalah hubungan cinta yang berjalan seperti yang diinginkan, memiliki kualitas hubungan yang tinggi, dan berlangsung selamanya. Berikut merupakan ciri-ciri umum hubungan yang memuaskan.

  • Adanya rasa cinta yang mendalam kepada masing-masing pasangan.
  • Adanya rasa suka pada pasangan yang didalamnya adalah menghormati satu sama lain dan memiliki kesamaan dengan pasangan.
  • Mengalami kepuasan pada saat menjalani sebuah hubungan, sepanjang hubungan tersebut berlangsung, hal ini salah satunya bisa dilihat dari perasaan aman dan nyaman ketika sedang berasa bersama pasangan.
  • Adanya kestabilan hubungan.

Selain ciri-ciri umum hubungan yang memuaskan, ada juga beberapa faktor yang menjadikan sebuah hubungan bisa menimbulkan kepuasan:

  • Adanya keadilan dan keseimbangan dalam hubungan.
  • Dalam menjalani sebuah hubungan kedua pasangan akan merasa dipahami dan dimengerti satu sama lain (Kindred spirit).
  • Mendapatkan hubungan cinta yang ideal bersama pasangan.
  • Memiliki strategi memecahkan masalah yang sama dengan pasangan.
  • Konflik dalam Cinta.

Bukan hanya dalam sebuah hubungan cinta, konflik merupakan sebuah hal yang selalu ada dalam kehidupan sehari-hari. Konflik dalam sebuah hubungan percintaan adalah hal yang lumrah dan pasti dialami semua pasangan, akan tetapi konflik yang dihadapi setiap pasangan pada umumnya hanyalah hal-hal kecil belaka akan tetapi dapat berimbas pada keretakan bahkan kegagalan hubungan.

Seiring dengan interaksi yang erat dalam berhubungan, semakin banyak waktu yang dihabiskan bersama, dan semakan banyak kegiatan yang dilakukan bersama akan cenderung semakin banyak terjadinya konflik. Pada saat awal menjalin hubungan cinta pada umumny konflik belum timbul dan semakin lama perjalan hubungan dan semakin terjalin kedekatan yang erat konflik akan sering muncul

Berdasarkan sumber penyebabnya, konflik dapat dibedakan dalam 3 kategori besar, yaitu konflik yang bersumber dari perilaku spesifik pasangan, konflik yang bersumber dari norma peran, dan konflik yang bersumber karena disposisi pribadi, dan berikut merupakan penjelasan mengenai sumber penyebab konflik.

Konflik yang bersumber dari perilaku pasangan, misalnya berperilaku kekanak-kanakan, bertingkah jorok, membuat malu pasangan dan lain-lain.

Konflik karena norma peran, misalnya hal-hal yang terkait hak dan kewajiban pasangan yang terlibat, sumber konflik biasanya berasal dari kurang seimbangnya hubungan timbal bailk dan karena sebab ingkar janji.

Konflik karena disposisi pribadi, misalnya pasa saat seseorang berperilaku khas ketika menanggapi perilaku pasangan. Mereka akan marah akan sesuatu yang sebenarnya sepele misanya ketika pasanganya melalaikan tugas mencuci piring.

Related posts